Jazz Indonesia: sebuah simbol arogansi pseudo-intelektual?

Pada awal perkembangannya, jazz di Indonesia tidak menawarkan musiknya sebagai ide pembebasan melainkan elitismenya sebagai sebuah kelas. Jazz Indonesia tidak memperjuangkan siapa-siapa dan tidak memperjuangkan apa-apa kecuali kekayaan bahasa musik yang menjadi modal dan hanya dimiliki kelompok elit tertentu.

Berbeda dengan sejarah kelahiran Jazz di Amerika, perkembangan jazz di Indonesia tak bisa disebut sebagai perlawanan ideologis. Jazz di Indonesia tidak lahir karena jerit penderitaan, tetapi lebih tepat sebagai sebuah simbol arogansi pseudo-intelektual. Membuat seolah-olah pemain jazz itu lebih mengerti dan lebih tinggi seleranya dibandingkan musik lainnya. Hasilnya adalah, jazz di Indonesia hanya membentuk kelompok-kelompok eksklusif yang takkan pernah mewakili masyarakat kelas bawah.

 Dua paragraf pembuka disampaikan oleh Idang Rasjidi. Apa yang dipaparkannya dikutip dari paparan Seno Gumira Ajidarma saat menyampaikan buah pikirannya dalam diskusi Wacana Jazz dan Pembebasan dalam Forum Kritik dan Pembebasan Wacana Moralitas: Dilema Filsafat, Seni, dan Spiritualitas, Lembaga Teori dan Praktik Wacana Panteon, Purna Budaya Yogyakarta, 8 Mei 1999. Sebuah catatan lama yang masih disimpan dengan rapih oleh Bang Idang.

Sikap elitis juga tertular kepada para penikmat musik jazz. Mereka yang berkesempatan menonton musik jazz biasanya merasa lebih tinggi derajatnya ketimbang penikmat musik lain, misalnya dangdut. Padahal tidak semua orang yang hadir dalam suatu konser jazz, benar-benar mengerti dan memahami musik jazz.

Dipengaruhi oleh perkembangannya yang elitis dan eksklusif, wajar pula jika muncul tudingan dari mereka yang berdiri di luar musik jazz bahwa, para musisi jazz adalah komunitas eksklusif yang egois. Namun tudingan tersebut sebenarnya mencitrakan ketidakmampuan mereka sendiri dalam merenangi keragaman musik.

Tudingan tersebut sebenarnya kurang berdasar karena setiap seniman memiliki egonya masing-masing. Ego tersebutlah yang memengaruhi kreatifitasnya sehingga mudah dibedakan dengan karya seniman lainnya. Dalam bereksperimen, seorang musisi jazz hanya bermain saja tanpa memikirkan apakah musiknya akan diterima oleh publik. Bagi mereka yang penting adalah menyerap berbagai inspirasi dan memainkannya dengan gayanya sendiri. Kebebasan inilah yang mungkin dianggap egois oleh sebagian orang yang tak memahami karakteristik jazz.

Jika ada kesan bahwa jazz hanya untuk kelas atas, memang sejak mulanya di Indonesia jazz dimainkan di hotel-hotel berbintang. Karena pada waktu itu memang sulit meminta club-club atau café yang kecil untuk menampilkan musik jazz. Selain kurang menguntungkan dari aspek komersial, jazz juga dianggap masih terlalu asing untuk pengunjung cafe.

Wajar jika musisi jazz sering manggung di hotel karena alasan tersebut, selain faktor kebetulan karena para manajer hotel saat itu juga pecinta jazz. Wajar jika jazz menjadi musik yang diterima kalangan menengah ke atas, karena hanya merekalah yang sering berkunjung ke hotel. Hal ini memberikan kesan bahwa mereka membuat kelompok yang eksklusif.

Namun dalam perkembangannya, jazz tidak selalu identik dengan musik bergengsi, musik kelas menengah ke atas, dan musik hotel. Pergeseran kesan tersebut dipengaruhi oleh pagelaran/festival jazz yang diadakan di tempat selain hotel, seperti kampus, cafe, dan gelanggang olah raga.

Gagasan menyelenggarakan event jazz di tempat yang lebih “merakyat” dan cenderung gratisan ini merupakan upaya para musisi jazz untuk lebih mendekatkan jazz dengan masyarakat luas. Karena itulah mulai digelar berbagai pagelaran jazz seperti JakJazz, JavaJazz, dan yang hingga saat ini cukup menarik kaum muda adalah Jazz Goes to Campus (JGTC). Belum lagi kegiatan jazz yang diselenggarakan oleh para penggiat jazz di daerah-daerah, seperti Jogyakarta, Lampung, Pekalongan, Bogor, Surabaya, Batam, Medan, dan daerah lain yang belum terinformasikan.

Ketika pagelaran musik jazz kian memasyarakat, mulailah dirasakan perkembangan jazz Indonesia. Disebut jazz indonesia karena umumnya orang melihat jazz dari kacamata luar; Eropa dan Amerika. Para musisi jazz Indonesia sendiri mengalami fase kesadaran untuk memainkan jazz dengan warna Indonesia. Dari titik itulah jazz di Indonesia menjadi musik “eksperimental”, seperti misalnya menggabungkan kekayaan instrumen daerah dengan alat musik modern yang menjadi standar jazz, mengolaborasikan jenis musik lainnya dengan karakteristik Jazz. Misalnya, memanunggalkan antara Dangdut dengan Jazz.

Lho, Dangdut dan Jazz kawinan? Bukan suatu hal yang tak mungkin. “Jazz itu tak pernah menolak teks, lagu, dan aransemen apapun!” Kata Bang Idang. Nah, kita tunggu saja!

Whitney, Greatest Singer of All

Artikel asli ini muncul pada 4 Desember 2002 silam dari cuplikan tayangan Primetime’s Diane Sawyer spesial tentang Whitney Houston. Di situ Whitney Houston mengakui dirinya memakai narkoba. Namun, ia mengatakan, hal itu adalah problema masa lalunya.

Dalam sebuah wawancara yang tergolong amat langka itu, Houston mengatakan di tayangan Primetime’s Diane Sawyer tersebut, dirinya menggunakan alkohol, ganja, kokain, dan beberapa jenis narkoba lainnya di waktu-waktu yang berbeda semasa karirnya.

“Saya berpesta. Tapi, percayalah, saya berpesta melepaskan segalanya,” ujar Houston, kala itu.
“Kamu sampai pada satu titik, di mana kamu tahu pesta itu usai,” katanya.

Seperti diberitakan pada Minggu (12/2/2012) pagi ini, penyanyi pop dunia asal Amerika Serikat itu meninggal dunia, Sabtu (11/2/2012), sekitar pukul 3.35 sore waktu setempat. Pihak kepolisian memastikan, Whitney Houston tutup usia di sebuah kamar hotel Beverly Hills Hilton.

Penyanyi bersuara emas itu meninggal di usianya ke-48 tahun setelah kehidupan pribadinya sempat ramai diberitakan akibat keretakan rumah tangganya bersama vokalis Bobby Brown, hingga ketergantungannya terhadap obat-obatan terlarang.

Dalam pencapaian kariernya, Houston termasuk salah satu wanita emas dalam industri musik di era 1980 hingga akhir 1990. Houston menjadi salah satu artis paling laris di zamannya. Melalui kemampuan olah vokal yang luar biasa ditambah warna vokal yang khas seorang wanita berkulit hitam, Houston mampu menyihir penonton dan penyuka musiknya.

Tak pelak, Houston pun berhasil menjadi salah satu inspirasi para penyanyi generasi muda di bawahnya, seperti Christina Aguilera hingga Mariah Carey. Tetapi, sayang, di ujung kariernya kehidupan Houston justru dirusak oleh obat-obatan terlarang. Ia tak mampu mengendalikan ketergantungannya.

Tak heran, jika kemudian penjualan albumnya sejak itu jeblok dan terpaksa dihentikan. Citra Houston semakin terpuruk setelah bersahabat dengan kokain, ganja, dan obat-obatan terlarang yang merusak warna vokal merdunya menjadi kering, serak dan tak dapat lagi menyentuh nada dengan notasi tinggi akibat kondisi tubuhnya tak lagi prima.

“Setan terbesar itu (ada di diri) saya. Saya tak lagi bisa membedakan (narkotika) sebagai sahabat baik saya atau pun musuh terbesar saya,” kata Houston yang didampingi suaminya, Brown kepada Diane Sawyer dari ABC dalam wawancara eksklusif pada 2002 itu.

Sebagai superstar dunia yang berhasil menjual albumnya sebanyak 55 juta copy dalam sejarah AS, hal tersebut merupakan peristiwa yang tragis. Houston seakan terlahir untuk menjadi artis besar. Ia adalah seorang putri dari penyanyi rohani Cissy Houston, sekaligus keponakan dari diva era 1960-an Dionne Warwick, dan cicit dari Aretha Franklin. Houston mengawali kariernya sebagai penyanyi gereja ketika masih kanak-kanak. Saat beranjak remaja, Houston ikut menjadi penyanyi latar Chaka Khan, Jermaine Jackson, hingga Clive Davis.

“Pertama kali saya melihatnya bernyanyi adalah pada saat konser ibunya di sebuah klub. Kemampuan bernyanyi Houston sungguh mengejutkanku,” kata Davis kepada “Good Morning America”.

Mengubah susunan acara Grammy

Meninggalnya si Ratu Pop dunia yang bertepatan dengan sehari menjelang ajang penghargaan bergengsi bagi musisi, Grammy Awards 2012, memaksa produser Grammy mengubah susunan acara untuk memberi penghormatan.

Produser eksekutif Grammy Awards Ken Ehrlich akan menggelar tribute untuk Whitney Houston. Beberapa musisi dikabarkan sudah bersedia untuk melakukan tribute bagi penyanyi yang telah memenangkan 6 penghargaan Grammy Awards itu.

“Aku telah meminta Jennifer Hudson untuk datang dan saat ini kami sedang membicarakan apa yang bisa dia lakukan,” ujarnya seperti dilansir CNN, Minggu (12/2/2012).

Jennifer Hudson juga pernah melakukan tribute untuk Whitney saat acara BET Honors di Washington pada 2010 lalu.

“Itu terlalu dini untuk dibicarakan. Ini akan menjadi sesuatu untuk menghormati Whitney. Kami sudah membuat skenario dan kami telah membuat beberapa perubahan,” paparnya.

“Ini akan menjadi pertunjukan musik besar,” tambahnya.

Acara Grammy Awards yang digelar di Los Angeles, Minggu (12/2/2012) waktu setempat juga diharapkan menggelar tribute untuk penyanyi Etta James, yang meninggal pada Januari, dan pencipta lagu Don Cornelius, yang meninggal awal Februari.