Manajer Metallica: YouTube adalah Setan yang Matikan Industri Rekaman

Jurnalmusik.com – Peter Mensch, manajer band-band besar seperti Metallica, Red Hot Chili Peppers dan Muse, mengatakan YouTube membunuh industri rekaman.

“YouTube: mereka adalah setan,” katanya kepada program BBC tentang bisnis musik. “Kami sama sekali tidak dibayar.”

Dia mengatakan model bisnis musik via online, di mana seniman mendapatkan pemasukan lewat pemasangan iklan pada musik mereka, tidak akan berkelanjutan.

Peter Mensch
Peter Mensch
“Jika tidak seorang pun melakukan sesuatu terhadap YouTube, kita kalah,” katanya. “Sudah berakhir. Silahkan matikan lampunya.”

Pernyataan Mensch serupa dengan kekhawatiran dalam laporan tahunan International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) yang dikeluarkan minggu lalu.

Disebutkan terjadi perluasan “perbedaan nilai” volume musik yang didapat gratis pada layanan “pengunduhan-pengguna” termasuk YouTube, Daily Motion dan Soundcloud serta jumlah pemasukan yang mereka sumbang untuk industri ini.

Sekitar 900 juta pemakai pada situs ini menghasilkan pemasukan hanya US$634 juta pada tahun 2015. Sementara pelanggan musik berbayar, yang jumlahnya sekitar 68 juta, menghasilkan hingga US$2 miliar.

YouTube dan Spotify

Sementara itu badan industri musik Inggris BPI juga mengeluarkan statistik perbandingan antara pendapatan artis dari layanan streaming Spotify dan YouTube.

Dalam laporan tersebut diketahui pendapatan artis lewat layanan streaming Spotify meningkat £146 juta pada saat akses meningkat 82%.

Perusahaan seperti Vevo mengunggah musik ke YouTube dan mendapat keuntungan dari situ.
Perusahaan seperti Vevo mengunggah musik ke YouTube dan mendapat keuntungan dari situ.

Sedangkan peningkatan akses lewat YouTube amat jauh melampaui Spotify, namun pemasukan artis hanya £24,4 juta.

Pimpinan BPI, Geoff Taylor, sampai berujar, “Industri musik menolong YouTube tumbuh, tetapi mereka tak berbagi nilai keuntungan dengan para pencipta.”

Ini bisa terjadi karena ketergantungan industri musik pada pelantar atau platform seperti YouTube. Platform seperti ini dilindungi hukum Amerika dan Eropa, mereka tak boleh dituntut sekalipun ada materi bajakan di pelantar itu.

Maka sekalipun perusahaan rekaman tak setuju musik mereka diunggah ke YouTube, para pengguna bakal tetap mengunggah dan perusahaan rekaman tak dapat apa-apa.

Spotify mengandalkan musik dan iuran pelanggan, YouTube mengandalkan berbagai video dan iklan.
Spotify mengandalkan musik dan iuran pelanggan, YouTube mengandalkan berbagai video dan iklan.

Dulu Google sempat disalahkan karena tak mau mempersulit upaya pengguna ketika mencari musik bajakan. Kini persoalannya adalah YouTube yang jadi sarana utama orang mendengarkan musik.

Dan pihak Google sendiri sempat menyatakan, “Kami tampaknya selalu jadi penjahat sekarang ini.”

Spotify mengandalkan musik dan iuran pelanggan, YouTube mengandalkan berbagai video dan iklan.

Sarana promosi

Google mengaku bahwa mereka sebenarnya sudah melakukan investasi besar di sistem pengenalan pengguna.

Dengan demikian maka perusahaan rekaman bisa melacak materi bajakan yang diunggah lantas bisa meminta materi itu dicabut atau mencari keuntungan darinya.

Mereka juga menolak disamakan dengan layanan seperti Spotify dengan alasan layanan berbasis langganan seperti Spotify memang mengandalkan musik, sementara YouTube adalah pelantar video yang isinya beragam dan didukung oleh iklan.

Maka Google ingin industri musik melihat YouTube sebagai sarana promosi -seperti radio- daripada tempat mencari keuntungan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *