Gugun Blues Shelter: Penolakan Major Label Adalah Inspirasi Sekaligus Motivasi

Gugun Blues Shelter

Wawancara lanjutan dari Apa Kata Gugun Blues Shelter Tentang Aerosmith. Dalam wawancara kali ini, Gugun Blues Shelter (GBS) mengungkapkan bagaimana mereka memilih jalur indie sebagai langkah karir musik. Bahkan salah satu personil mengatakan bahwa ia bersyukur waktu itu major label tidak ada yang meminatinya.

Berikut wawancara lengkapnya.

GBS bergerak di jalur musik independen. Pernah coba ke major label?

MG: Au..ahh..hahaha. Prinsipnya, major atau indie sama saja. Gue mulai bikin lagu dari 1997. Waktu itu eranya Dewa dan Gigi, Konsep musik sebetulnya hampir sama, tetapi mereka bilang, ‘wah, kalau musiknya kayak gini, nggak laku nih,’

Waktu itu gue mendatangi beberapa label, dan mereka suruh bikin dan bikin lagi. Gue berusaha membuat apa yang mereka mau, tetapi tetap saja di kuping mereka musik gue terlalu bagus, terlalu blues, segmented dan nggak laku. Ya, sudahlah. Bidang musik nggak harus di major label.

Apa yang ada di pikiran kalian ketika dicap tidak bakal laku?

MG: Ya, menurut gue, pelaku bisnis di Indonesia nggak berani menerima pembaruan, tantangan dan sesuatu yang berbeda. Seperti jualan sandal jepit, karena laku, ya sudah, jual sandal jepit yang bentuknya begitu-begitu saja. Padahal penggemar musik ini juga banyak. Berarti yang nggak berani ambil resiko adalah si pelaku bisnis.

JA: Itu menyakiti, tetapi juga menginspirasi dan memotivasi kami. Namanya juga bisnis. Ingin resiko kecil tetapi hasilnya besar.

Kalau kami dianggap resiko besar, hasilnya kecil.

Tetapi lihat sekarang, kami diajak membuka Aerosmith, diajak main di luar negeri. Kalau kami sama major, apa kabar? Kami akan diperas terus. Potong sana-sini. Kami beruntung juga nggak diambil sama major label.

Jaid kalian mempersiapkan GBS untuk pasar Internasional?

MG: Benar sekali. Jadi waktu 2004 gue ketemu Jono (nama panggilan Jonathan, Pen.), kami ngobrol panjang lebar dan dia mendengarkan materi musik yang gue bikin di komputer. Nah, musik seperti ini, kalau di Indonesia  memang susah banget.

JA: Waktu itu kami juga main secara reguler di Kemang, dan terkadang nggak ada yang nonton. Walaupun ada, rata-rata orang bule. Jadi kami coba tur ke Bali, dua minggu, kafe ke kafe. Ternyata responnya bagus. Lalu kami bikin album dengan harapan bisa ke luar negeri. Makanya kebanyakan full bahasa Inggris.

Bersambung


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *