Harpa: Pesona Alat Musik Para Dewa

Masih ingat lagu yang dibawakan band Padi berjudul Kasih Tak Sampai? Ya, lagu apik diiringi petikan harpa yang syahdu itu sempat menjadi hit beberapa tahun lalu. Mungkin jika tidak diberi tahu sebelumnya, bisa jadi hanya sedikit yang mengetahui bahwa instrumen pengiring lagu itu didominasi oleh permainan harpa.

Harpa biasanya diidentikkan dengan musik klasik. Unsur keklasikannya dapat terlihat dari segi desain. Bentuk melengkungnya terlihat begitu elegan ditambah dengan susunan string dan elemen logam bewarna emas pada pengait setiap string.

Harpa atau dalam bahasa Inggris disebut dengan harp merupakan satu dari sekian banyak jenis alat musik petik. Meski harpa bukan termasuk alat musik baru, tidak terlalu banyak orang mengenalnya. Padahal alat musik ini sudah terkenal sejak dulu kala, bahkan sudah dikenal di berbagai kerajaan. Harpa tergolong instrumen kuno karena telah ada sejak awal tahun 2500 sebelum masehi. Karena mengalami perubahan dan terus dikembangkan, harpa telah menjadi instrumen utama dalam dunia musik modern.

Harpa sering kali hadir bersamaan dengan orkestra simfoni, bersamaan dengan suara vokal, suara flute, atau bisa juga dengan jazz bass dan drum. Namun, harpa alat musik yang besar dan sifatnya membosankan, karena itu tidak terlalu disukai banyak orang. Apalagi di zaman sekarang ini, musik telah beralih ke alat musik listrik atau elektrik. Walau begitu, dengan mengikuti perkembangan zaman, mulai bermunculanlah harpa elektrik.

Pertanyaan yang dilemparkan secara acak pada setiap orang tentang harpa, kemungkinan besar mereka akan menjawab alat musik petik yang berukuran besar. Harpa dikenal dengan bentuknya yang tinggi, umumnya berwarna emas, dan memiliki senar. Biasanya berbentuk dasar segitiga. Tapi, harpa tidak selalu hadir dalam bentuk yang itu-itu saja. Harpa berbeda dalam ukuran dan jenis.

Alat musik ini telah berevolusi ke berbagai bentuk dalam empat milenium terakhir. Harpa memiliki berbagai jenis variasi bentuk, ukuran, dan berat. Namun kesemuanya itu, harpa tetap memiliki tiga bagian utama, yaitu Papan suara (Sound board), Leher (Neck), dan Senar (String).

Alat musik petik satu ini memiliki ukuran dari dua kaki atau 60 sentimeter hingga enam kaki atau 180 sentimeter dari lantai. Jumlah senarnya pun bervariasi mulai dari 22 senar sampai 47 senar. Untuk harpa yang berukuran kecil suaranya terdengar lebih lembut. Biasanya jika Anda membeli harpa ukuran mini bisa dipangku sambil dimainkan. Sedangkan untuk yang berukuran besar dapat diletakkan di atas lantai. Harpa Ukuran 60 sentimeter dari lantai berkisar dari 10 sampai 16 juta. Ukuran kurang-lebih 1 meter dari lantai berkisar 30 hingga 35 juta rupiah. Adapun yang lebih besar dengan harga 50 juta rupiah, dan di atasnya. Wajar bila pengagum dan pemain harpa harus rela merogoh koceknya lebih dalam untuk bias memainkannya.

Alat musik yang konon telah digunakan sejak zaman Mesir kuno ini terdiri dari banyak senar dan setiap senar menghasilkan satu nada. Sama seperti pada piano. Suara untuk melodinya juga hampir sama. Tetapi pada piano dapat secara bersamaan untuk menghasilkan gabungan dari nada. sedangkan harpa layaknya seperti gitar. Sebuah harpa dapat dimainkan baik dengan tangan, atau bisa juga dengan bantuan kaki, seperti yang ditemui pada pedal harp.

Harpa dapat dimainkan secara solo, atau bisa juga dalam bagian sebuah ansambel. Namun, terlepas dari keseluruhan itu, di mana dan bagaimana harpa dimainkan, harpa dapat menciptakan sebuah dentingan dan harmoni nada yang sangat indah. Itulah mengapa alat musik ini sering diilustrasikan bersama dengan para malaikat.(ger/R-2)

Menciptakan Musisi Kesohor

Di Indonesia, tidak banyak orang tertarik pada alat musik yang satu ini. Selain susah, harpa tidak terlalu komersil. Benarkah? Itulah yang masih diperdebatkan panjang lebar. Soal tidak banyak yang tertarik, rasanya betul. Mungkin Anda hanya mengenal Uzi Pieters, Heydi Awuy, atau Maya Hasan. Mereka adalah harpis (sebutan untuk pemain harpa) Tanah Air. Jangan heran kalau dalam banyak pementasan yang melibatkan harpis, nama-nama mereka sajalah yang terpampang.
Namun, benarkah tidak ada yang tertarik dengan harpa? Maya Hasan, salah satu harpis ternama Indonesia menampik anggapan tersebut.

“Sebenarnya ada banyak yang tertarik belajar harpa, hanya mungkin mereka tidak sabar atau kurang terekspose saja,” kata perempuan kelahiran Hongkong 10 Januari 1972 itu.

Maya tertarik dengan alat musik petik ini ketika duduk di bangku SMP. Setelah memutuskan menekuni harpa, Maya memilih belajar pertama kali pada Heydi Awuy di Jakarta. Maya kemudian belajar lebih serius dan memilih meneruskan pendidikan musiknya di Universitas Wilamette, Salem, Oregon, Amerika Serikat pada 1990-1993, dengan studi utama pertunjukan harpa.

Dalam sebuah kesempatan, Maya juga mengungkapkan agar setiap orang tidak memiliki kecenderungan untuk memandang alat musik dari tingkat kesulitannya terlebih dahulu.

“Persepsi masyarakat bahwa memainkan harpa itu sulit harus diubah. Di samping itu, hambatan yang paling besar adalah rasa bosan dan stres jika menghadapi lagu yang cukup rumit,” tambah dirinya.

Walau profesi tersebut tengah digelutinya kini, ia tak mau memaksa anak-anaknya untuk mempelajari alat musik yang tergolong mahal dan langka peminatnya itu. Namun, Maya tetap yakin bahwa dari Tanah Air bakal banyak bermunculan generasi muda yang akan mengikuti jejak dan menggantikan posisinya.

“Proses regenerasi tak perlu dipaksakan. Saya yakin sebab yang muda pun banyak. Sebagai buktinya adalah murid-murid saya yang kini sedang belajar di Amsterdam, Amerika, dan Inggris. Jadi itulah kenapa saya yakin,” pungkas wanita berdarah Cina, Kalimantan, Madura, dan Jawa itu.(ger/R-2)

Miliki Keunikan Tersendiri

Satu-satunya pemain harpa asal Indonesia yang pernah dan aktif tampil sebagai solois dengan beberapa orkestra ternama, baik dari dalam maupun luar negeri, adalah Rama Widi. Sebagai seorang musisi, Rama juga mahir memainkan alat-alat musik lain seperti biola, piano, klarinet, organ, celesta, dan perkusi. Namun, ia mengaku lebih tertantang untuk menjadi seorang harpis. Menurutnya, di Indonesia masih sedikit sekali musisi yang bisa memainkan instrumen yang kerap dijuluki alat musik para dewa itu.

“Untuk instrumen-instrumen piano dan lain-lain itu, di Indonesia sudah banyak yang menguasai. Ditambah lagi, harpa memiliki tingkat kesulitan yang membuat saya selalu merasa tertantang untuk mengasah kemampuan agar tidak stuck atau jalan di tempat,” kata pria yang mulai belajar harpa sejak tahun 2005 itu.

Baginya, harpa memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan alat musik lainnya. “Keunikannya, orang berpikir mudah memainkannya, tetapi sebenarnya harpa sangat sulit dimainkan. Di balik keelokan instrumen itu, harpa memunyai tujuh pedal dengan tiga tingkat per pedal untuk menaikkan dan menurunkan nada. Karena itu, selama lagu berlangsung, kita harus selalu aware dengan susunan pedal yang benar. Kalau tidak, ya, bunyinya bakal sangat tidak enak didengar,” ungkap pria yang menjadikan Maya Hasan sebagai sumber inspirasi pertama kalinya untuk bermain harpa. (berbagai sumber/ger/R-2)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *